Sebelum berangkat ke Sydney, aku cuman bisa ngiler aja baca websitenya Bonza Bike Tour, sebuah operator tur yang menjual tur bersepeda keliling Sydney. Pertama, harganya lumayan mahal: A$89 untuk tur singkat keliling downtown-nya Sydney selama 2.5 jam. Kedua, aku gak yakin ada yang mau nemenin aku ikut tur bersepeda. Memang waktu di Bali aku ikut tur SENDIRIAN di tengah bule-bule gede, tapi itu justru kebetulan ada bule-bule itu, jadi turnya bisa jalan. Tur Bonza ini juga sama dengan yang di Bali, baru bisa jalan kalo pesertanya lebih dari batas tertentu.
Sesampainya di Sydney, aku semakin ngiler melihat sepeda berseliweran di Circular Quay, di Darling Harbour, dan juga sepeda-sepeda Bike To Work yang diparkir di tiang-tiang listrik di jalan yang kami lalui..
Aku sebenarnya masih menyimpan harapan, karena kebetulan aku pergi serombongan dengan pak Yus, seorang penggowes yang hobi bersepedanya cukup dikenal di kantor. Beberapa kali aku nyeletuk: “Pak Yus, kalo bapak pengen ikut tur sepeda… saya mau nemenin loh.” (Ngareepp…)
Sampai pada hari ketiga kami menjelajah Sydney, pada perjalanan pulang di atas kereta, aku dan pak Yus membahas sepeda. Kemudian Iqbal, temanku yang juga ada di dalam rombongan nimbrung dan bertanya-tanya tentang reparasi sepeda, ternyata dia penggowes juga. TING!! Harapan-ku untuk bisa naik sepeda di negeri orang jadi lebih besar tuh… Kemudian kami menemukan brosur tentang sewa sepeda di daerah Manly. Sebuah daerah di teluk Sydney yang terkenal akan pantainya. Tadinya aku gak begitu tertarik ke Manly, hmm… I thought it was just another beach like Bondi Beach. Tapi setelah melihat brosur itu, dan mendapat info bahwa Manly punya sekitar 20km jalur sepeda, aku jadi semangat.
Akhirnya, sehari sebelum meninggalkan Sydney, kami bertiga berangkat pagi-pagi naik ferry ke Manly (kurang lebih ½ jam perjalanan dari Circular Quay). Sesampainya di dermaga Manly, kami menyelesaikan kebutuhan pagi masing-masing (Iqbal minum kopi, aku cari toilet). Kemudian berjalan kaki ke tempat penyewaan sepeda. Sewa sepeda di Manly terbilang relatif murah. Untuk sewa 1 jam biayanya A$14, untuk sewa 2 jam biayanya A$19, sedangkan sewa seharian sampai dengan persewaan sepedanya tutup A$24.
Mas-mas yang jaga persewaan sepeda ngasih petunjuk tentang daerah-daerah yang wajib kami kunjungi selama di Manly. Dia memberikan sebuah peta mungil, yang bisa masuk ke dalam kantong celanaku. Hehe...tidak ada kantong belakang seperti di jersey kali ini. Karena memang gak pasti-pasti banget mau wisata sepeda, jadi aku gak bawa perlengkapan olahraga. Akhirnya cuman pakek celana capri Executive yang sebenernya merupakan celana mall, terus sepatu sandal yang juga biasanya dipakek ke mall, dan kaos (juga versi mall, bukan kaos yang biasa buat olahraga).
Selain City Bike merk Schwinn 7-speed warna biru (aku pakek Ladies Bike), kami juga dipinjami helm merk Liman warna biru dengan tulisan http://www.manlybiketours.com.au/, dan kunci + rantai sepeda.
Tujuan pertama kami adalah Spring Cove, sebuah teluk kecil yang kami lewati dalam perjalanan menuju Sydney Harbour National Park di North Head. Ternyata jalur sepeda yang tertera di peta itu beraneka ragam kondisinya. Ada yang memang dedicated khusus untuk sepeda dan pejalan kaki, ada yang ”on road” alias di jalan umum namun diberi tanda khusus sepeda, ada juga yang ”on road” dan tidak ada marka jalannya, jadi campur gitu aja sama mobil. Tapi lewat jalan yang campur pun rasanya lebih aman dibandingkan nyepedah di jalan Buncit yang suka tiba-tiba ada motor dari arah berlawanan atau metro mini gak sopan.
Kembali ke perjalanan kami... Sayangnya, bukannya sampai ke Spring Cove kami malah nyasar ke Little Manly Cove, teluk kecil lainnya karena sempet salah belok. Untungnya di Little Cove itu banyak rumput dan bunga kecil-kecil. Sementara pak Yus dan Iqbal melihat ke pinggir tebing di tepian teluk tersebut, aku malah duduk di rumput sambil mengamati peta mungil tadi.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju North Head. Lumayan juga bok, jalannya tanjakan terus... maklum deh, memang naik ke atas tebing gitu. Pernah lihat Uluwatu? Kurang lebih seperti itu lah pemandangannya....
Sepanjang jalan kiri-kanan penuh dengan semak-semak. Konon semak-semak itu adalah tempat penangkaran Bandicoot, sejenis tupai gitu deh. Ufff... pegel juga nanjak, aku tak berani naikkan seatpostnya lebih tinggi pula, maklum masih belum biasa dengan handling-nya karena handle bar-nya melengkung dan lebar banget. Plus sadelnya guede pisan... jadi semakin pegel deh pantatnya. Di tengah-tengah never ending tanjakan itu, aku membayangkan tiba-tiba ada mobil Innova nyusul sepeda-sepeda kami, terus ada seekor bantal kuda dan seorang snoopy nongol sambil ngomong: SEEEMMMAAANGGGGAAATTTT....
Ehehe.... cukup sudah berimajinasi... ternyata akhirnya sampe juga kok ke atas tebing... mampir dulu di salah satu tempat parkir, pemandangannya bebas banget dari atas sana. Abis itu meneruskan perjalanan sampe sepeda udah gak boleh masuk lagi dan kami terpaksa memarkir sepeda di tiang rambu lalu lintas.
Tentu saja gak lupa foto-foto... Kami sempat bertemu dengan rombongan orang Indonesia pegawai Menko Something yang menyangka kami ini segerombolan mahasiswa dari Malaysia. Wakakakakak... tapi emang lumayan jarang kan pegawai dari Indonesia yang iseng banget mau naik sepeda seperti itu, mengingat keadaannya: di negeri orang, cuaca unpredictable, nanjak dan jauh dari mana-mana pula. Kalo bisa bayar untuk ikutan tur dengan mobil fully air conditioned, buat apa naik sepeda?? Most people bakalan mikir seperti itu pasti… kecuali yang emang suka sepeda.
Kita cuman senyam-senyum aja dibilang mahasiswa. Yah… pak Yus kan sebentar lagi sudah masuk masa persiapan pensiun. Mungkin karena rajin naik sepeda ya, jadi biarpun baru aja balik dari kursus purna bakti, tapi pak Yus tetep disangka mahasiswa.
Setelah puas poto-poto, kami pun turun bukit... poto-poto lagi di tempat parkir yang sebelumnya sudah kami kunjungi. Terus tuuuurrrruuuunnn lagi… sampai akhirnya masuk ke jalur sepeda pinggir pantai, kemudian gowes ke arah Shelly Beach. Pantai pasir putih di ujung garis pantai-nya Manly yang menghadap ke Timur. Di sana ketemu dengan banyak orang yang latihan scuba-diving.
Iqbal dan pak Yus hanya foto-foto, cuman aku yang turun ke air dan mencicipi dinginnya air laut. Setelah itu kita gowes lagi menyusuri pantai. Hmmm… kapan lagi bisa sepedaan di pinggir laut gini? (di Ancol ada jalur sepeda seh... tapi kok kurang menclang, kurang keliatan gitu loh...). Hmmm, semoga bisa bikin yang seperti ini di Indonesia.
Itu udah jam 1 siang, dari tadi sebenarnya sudah lapar, tapi bingung mau makan dimana. Akhirnya di dekat The Corso, sebuah pusat perbelanjaan yang bentuknya ruko-ruko, kami memarkir sepeda.
Makan siang kami adalah Kebab. Aku makan Lamb and Chips. Potongan daging domba dengan kentang goreng. Kami makan di pinggir laut. Pak Yus sempat bagi-bagi kentang gorengnya ke beberapa burung camar yang mendekati kami.
Di tengah-tengah makan siang yang rasanya gak abis-abis itu (beneran banyak banget), timbul pembicaraan tentang sepeda (lagi). Setelah dihitung-hitung, ternyata jumlah orang yang suka sepeda (dan juga bisa diracuni biar suka sepeda) di bagian kami cukup buat bikin MDGTI Bike Community. Hmm... kapan ya bisa ngumpul terus nyepedah barengan, kalo perlu ngajak keluarga, biar makin rame.
Akhirnya aku gak menghabiskan kentang gorengku, dan memilih untuk membungkus sisanya dan memasukkan ke tas ransel. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan menuju Manly Lagoon. Sempet nyasar lagi, si Iqbal udah keburu duluan masuk ke Greycliff St. Untung aja setelah nyebrang jembatan aku liat peta dulu, trus baru ngeh kalo kita harusnya lewat di BAWAH jembatan, bukan NYEBRANG jembatan. Setelah ngirim sms ke Iqbal dan menunggunya di sebrang jembatan, kami pun menuju Manly Lagoon.
Kami sempat melihat anjing dan tuannya sedang bermain throw-and-catch (duh... kok jadi inget kuliahnya bu Inge ya...). Di tepi Manly Lagoon, kami ambil foto bertiga bersama sepeda masing-masing. Setelah itu cepet-cepet kembali ke persewaan sepeda, sebab saat itu sudah jam 3, dan kami masih pengen ke Oceanworld, takut keburu persewaan sepedanya tutup.
Aku lumayan ngebut, terutama setelah masuk jalan raya lagi. Hahaha... di Jakarta mah mana pernah ngebut begitu (kecuali pas kesel sama Metro Mini iseng). Setelah membereskan administrasi, kami langsung jalan kaki ke Oceanworld.
Sampai di Oceanworld, ternyata Iqbal kehilangan selera untuk masuk ke dalamnya. Jadi kami putuskan untuk nyebrang kembali ke Sydney. Saat itu jam 3.40. Ketika jalan menuju Manly Wharf, aku iseng bertanya pada pak Yus, jam berapa ferry berikutnya ke Sydney berangkat? Pak Yus mengeluarkan brosur Manly Ferries yang ada jadwalnya, jreng-jreng.... ternyata 3.45, dan dari jauh keliatan ada ferry bersandar di dermaga. AAWWW... itu pasti kapal yang 3.45, kalo kita ketinggalan kapal itu, harus nunggu ½ jam lagi. Jadi.... LAAAARRRIIIIII....!!!!
Wah... kedondong banget... lari-lari begitu… kayak triathlon aja… abis naik sepeda, terus lari-lari... tinggal kurang berenang aja. Tapi yang berenang mah pada saat itu gak berminat... jangan sampe deh... Kalo berenang di kolam Kemang Sport sih gak apa-apa.
Sampai di dermaga tepat pada saat pintu ferry mulai dibuka dan penumpang dipersilakan masuk. Kami pun masuk, langsung mengambil tempat di aft (buritan ya bahasa Indonesianya?), lantai 2. Terus duduk. Diem-dieman, gak minat ngomong, gak minat foto-foto, maklum masih capek lari-lari, tapi emang jadi lebih hangat deh.
Setelah mendapatkan kembali suara masing-masing... aku pun menghabiskan sisa kentang goreng yang tadi. ½ jam kemudian kami merapat kembali di Circular Quay. Oya, satu hal yang menarik... ketika kami mengantri keluar dari ferry, aku melihat di dalam ferry tersebut, tepatnya di dekat pintu, disediakan tempat parkir sepeda. Dan hari itu, tempat parkir sepeda tersebut penuh. Enak juga ya... penduduk Sydney yang pengen bersepeda di Manly, tinggal gowes sepedanya ke Circular Quay, masukin ke ferry, terus lanjut gowes lagi setelah sampai di Manly. Hmm... kapan ya bisa bikin kota yang benar-benar sepeda friendly seperti Manly gitu...
Sebelum berangkat ke Manly, dengkulku agak-agak sakit. Itu akibat turun menyusuri Furber Steps waktu di Blue Mountain dua hari sebelumnya. Waktu naik sepeda, aku udah membayangkan... gimana pegelnya nanti malam... udah dengkul sakit, sekarang ditambah lagi pantat pegel karena sadelnya kegedean. Tapi ternyata... alhamdulilah bayanganku itu tidak terwujud. Yang ada... sakit di dengkul malah hilang... Selebihnya juga biasa-biasa aja ternyata, seperti selayaknya kalo habis naik sepeda di Ragunan.
Waaaawww... akhirnya kesampaian juga, cita-cita pengen naik sepeda di Aussie. Ini dia yang namanya ”Work To Bike”: Perjalanan dinas yang bisa menghasilkan petualangan bersepeda… hehehehe...