Agrita's Site

Ketika Gita Menggowes

Blog EntryBersepeda Keliling Manly - 1 November 2008Nov 7, '08 10:20 AM
for everyone

Sebelum berangkat ke Sydney, aku cuman bisa ngiler aja baca websitenya Bonza Bike Tour, sebuah operator tur yang menjual tur bersepeda keliling Sydney. Pertama, harganya lumayan mahal: A$89 untuk tur singkat keliling downtown-nya Sydney selama 2.5 jam. Kedua, aku gak yakin ada yang mau nemenin aku ikut tur bersepeda. Memang waktu di Bali aku ikut tur SENDIRIAN di tengah bule-bule gede, tapi itu justru kebetulan ada bule-bule itu, jadi turnya bisa jalan. Tur Bonza ini juga sama dengan yang di Bali, baru bisa jalan kalo pesertanya lebih dari batas tertentu.

 

Sesampainya di Sydney, aku semakin ngiler melihat sepeda berseliweran di Circular Quay, di Darling Harbour, dan juga sepeda-sepeda Bike To Work yang diparkir di tiang-tiang listrik di jalan yang kami lalui..

Aku sebenarnya masih menyimpan harapan, karena kebetulan aku pergi serombongan dengan pak Yus, seorang penggowes yang hobi bersepedanya cukup dikenal di kantor. Beberapa kali aku nyeletuk: “Pak Yus, kalo bapak pengen ikut tur sepeda… saya mau nemenin loh.” (Ngareepp…)

 

Sampai pada hari ketiga kami menjelajah Sydney, pada perjalanan pulang di atas kereta, aku dan pak Yus membahas sepeda. Kemudian Iqbal, temanku yang juga ada di dalam rombongan nimbrung dan bertanya-tanya tentang reparasi sepeda, ternyata dia penggowes juga. TING!! Harapan-ku untuk bisa naik sepeda di negeri orang jadi lebih besar tuh… Kemudian kami menemukan brosur tentang sewa sepeda di daerah Manly. Sebuah daerah di teluk Sydney yang terkenal akan pantainya. Tadinya aku gak begitu tertarik ke Manly, hmm… I thought it was just another beach like Bondi Beach. Tapi setelah melihat brosur itu, dan mendapat info bahwa Manly punya sekitar 20km jalur sepeda, aku jadi semangat.

 

Akhirnya, sehari sebelum meninggalkan Sydney, kami bertiga berangkat pagi-pagi naik ferry ke Manly (kurang lebih ½ jam perjalanan dari Circular Quay). Sesampainya di dermaga Manly, kami menyelesaikan kebutuhan pagi masing-masing (Iqbal minum kopi, aku cari toilet). Kemudian berjalan kaki ke tempat penyewaan sepeda. Sewa sepeda di Manly terbilang relatif murah. Untuk sewa 1 jam biayanya A$14, untuk sewa 2 jam biayanya A$19, sedangkan sewa seharian sampai dengan persewaan sepedanya tutup A$24.

 

Mas-mas yang jaga persewaan sepeda ngasih petunjuk tentang daerah-daerah yang wajib kami kunjungi selama di Manly. Dia memberikan sebuah peta mungil, yang bisa masuk ke dalam kantong celanaku. Hehe...tidak ada kantong belakang seperti di jersey kali ini. Karena memang gak pasti-pasti banget mau wisata sepeda, jadi aku gak bawa perlengkapan olahraga. Akhirnya cuman pakek celana capri Executive yang sebenernya merupakan celana mall, terus sepatu sandal yang juga biasanya dipakek ke mall, dan kaos (juga versi mall, bukan kaos yang biasa buat olahraga).

 

Selain City Bike merk Schwinn 7-speed warna biru (aku pakek Ladies Bike), kami juga dipinjami helm merk Liman warna biru dengan tulisan http://www.manlybiketours.com.au/, dan kunci + rantai sepeda.

 

Tujuan pertama kami adalah Spring Cove, sebuah teluk kecil yang kami lewati dalam perjalanan menuju Sydney Harbour National Park di North Head. Ternyata jalur sepeda yang tertera di peta itu beraneka ragam kondisinya. Ada yang memang dedicated khusus untuk sepeda dan pejalan kaki, ada yang ”on road” alias di jalan umum namun diberi tanda khusus sepeda, ada juga yang ”on road” dan tidak ada marka jalannya, jadi campur gitu aja sama mobil. Tapi lewat jalan yang campur pun rasanya lebih aman dibandingkan nyepedah di jalan Buncit yang suka tiba-tiba ada motor dari arah berlawanan atau metro mini gak sopan.

 

Kembali ke perjalanan kami... Sayangnya, bukannya sampai ke Spring Cove kami malah nyasar ke Little Manly Cove, teluk kecil lainnya karena sempet salah belok. Untungnya di Little Cove itu banyak rumput dan bunga kecil-kecil. Sementara pak Yus dan Iqbal melihat ke pinggir tebing di tepian teluk tersebut, aku malah duduk di rumput sambil mengamati peta mungil tadi.

 

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju North Head. Lumayan juga bok, jalannya tanjakan terus... maklum deh, memang naik ke atas tebing gitu. Pernah lihat Uluwatu? Kurang lebih seperti itu lah pemandangannya....

Sepanjang jalan kiri-kanan penuh dengan semak-semak. Konon semak-semak itu adalah tempat penangkaran Bandicoot, sejenis tupai gitu deh. Ufff... pegel juga nanjak, aku tak berani naikkan seatpostnya lebih tinggi pula, maklum masih belum biasa dengan handling-nya karena handle bar-nya melengkung dan lebar banget. Plus sadelnya guede pisan... jadi semakin pegel deh pantatnya. Di tengah-tengah never ending tanjakan itu, aku membayangkan tiba-tiba ada mobil Innova nyusul sepeda-sepeda kami, terus ada seekor bantal kuda dan seorang snoopy nongol sambil ngomong: SEEEMMMAAANGGGGAAATTTT....

 

Ehehe.... cukup sudah berimajinasi... ternyata akhirnya sampe juga kok ke atas tebing... mampir dulu di salah satu tempat parkir, pemandangannya bebas banget dari atas sana. Abis itu meneruskan perjalanan sampe sepeda udah gak boleh masuk lagi dan kami terpaksa memarkir sepeda di tiang rambu lalu lintas.

 

Tentu saja gak lupa foto-foto... Kami sempat bertemu dengan rombongan orang Indonesia pegawai Menko Something yang menyangka kami ini segerombolan mahasiswa dari Malaysia. Wakakakakak... tapi emang lumayan jarang kan pegawai dari Indonesia yang iseng banget mau naik sepeda seperti itu, mengingat keadaannya: di negeri orang, cuaca unpredictable, nanjak dan jauh dari mana-mana pula. Kalo bisa bayar untuk ikutan tur dengan mobil fully air conditioned, buat apa naik sepeda?? Most people bakalan mikir seperti itu pasti… kecuali yang emang suka sepeda.

 

Kita cuman senyam-senyum aja dibilang mahasiswa. Yah… pak Yus kan sebentar lagi sudah masuk masa persiapan pensiun. Mungkin karena rajin naik sepeda ya, jadi biarpun baru aja balik dari kursus purna bakti, tapi pak Yus tetep disangka mahasiswa.

 

Setelah puas poto-poto, kami pun turun bukit... poto-poto lagi di tempat parkir yang sebelumnya sudah kami kunjungi. Terus tuuuurrrruuuunnn lagi… sampai akhirnya masuk ke jalur sepeda pinggir pantai, kemudian gowes ke arah Shelly Beach. Pantai pasir putih di ujung garis pantai-nya Manly yang menghadap ke Timur. Di sana ketemu dengan banyak orang yang latihan scuba-diving.

 

Iqbal dan pak Yus hanya foto-foto, cuman aku yang turun ke air dan mencicipi dinginnya air laut. Setelah itu kita gowes lagi menyusuri pantai. Hmmm… kapan lagi bisa sepedaan di pinggir laut gini? (di Ancol ada jalur sepeda seh... tapi kok kurang menclang, kurang keliatan gitu loh...). Hmmm, semoga bisa bikin yang seperti ini di Indonesia.

 

Itu udah jam 1 siang, dari tadi sebenarnya sudah lapar, tapi bingung mau makan dimana. Akhirnya di dekat The Corso, sebuah pusat perbelanjaan yang bentuknya ruko-ruko, kami memarkir sepeda.

 

Makan siang kami adalah Kebab. Aku makan Lamb and Chips. Potongan daging domba dengan kentang goreng. Kami makan di pinggir laut. Pak Yus sempat bagi-bagi kentang gorengnya ke beberapa burung camar yang mendekati kami.

 

Di tengah-tengah makan siang yang rasanya gak abis-abis itu (beneran banyak banget), timbul pembicaraan tentang sepeda (lagi). Setelah dihitung-hitung, ternyata jumlah orang yang suka sepeda (dan juga bisa diracuni biar suka sepeda) di bagian kami cukup buat bikin MDGTI Bike Community. Hmm... kapan ya bisa ngumpul terus nyepedah barengan, kalo perlu ngajak keluarga, biar makin rame.

 

Akhirnya aku gak menghabiskan kentang gorengku, dan memilih untuk membungkus sisanya dan memasukkan ke tas ransel. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan menuju Manly Lagoon. Sempet nyasar lagi, si Iqbal udah keburu duluan masuk ke Greycliff St. Untung aja setelah nyebrang jembatan aku liat peta dulu, trus baru ngeh kalo kita harusnya lewat di BAWAH jembatan, bukan NYEBRANG jembatan. Setelah ngirim sms ke Iqbal dan menunggunya di sebrang jembatan, kami pun menuju Manly Lagoon.

 

Kami sempat melihat anjing dan tuannya sedang bermain throw-and-catch (duh... kok jadi inget kuliahnya bu Inge ya...). Di tepi Manly Lagoon, kami ambil foto bertiga bersama sepeda masing-masing. Setelah itu cepet-cepet kembali ke persewaan sepeda, sebab saat itu sudah jam 3, dan kami masih pengen ke Oceanworld, takut keburu persewaan sepedanya tutup.

 

Aku lumayan ngebut, terutama setelah masuk jalan raya lagi. Hahaha... di Jakarta mah mana pernah ngebut begitu (kecuali pas kesel sama Metro Mini iseng). Setelah membereskan administrasi, kami langsung jalan kaki ke Oceanworld.

 

Sampai di Oceanworld, ternyata Iqbal kehilangan selera untuk masuk ke dalamnya. Jadi kami putuskan untuk nyebrang kembali ke Sydney. Saat itu jam 3.40. Ketika jalan menuju Manly Wharf, aku iseng bertanya pada pak Yus, jam berapa ferry berikutnya ke Sydney berangkat? Pak Yus mengeluarkan brosur Manly Ferries yang ada jadwalnya, jreng-jreng.... ternyata 3.45, dan dari jauh keliatan ada ferry bersandar di dermaga. AAWWW... itu pasti kapal yang 3.45, kalo kita ketinggalan kapal itu, harus nunggu ½ jam lagi. Jadi.... LAAAARRRIIIIII....!!!!

 

Wah... kedondong banget... lari-lari begitu… kayak triathlon aja… abis naik sepeda, terus lari-lari... tinggal kurang berenang aja. Tapi yang berenang mah pada saat itu gak berminat... jangan sampe deh... Kalo berenang di kolam Kemang Sport sih gak apa-apa.

 

Sampai di dermaga tepat pada saat pintu ferry mulai dibuka dan penumpang dipersilakan masuk. Kami pun masuk, langsung mengambil tempat di aft (buritan ya bahasa Indonesianya?), lantai 2. Terus duduk. Diem-dieman, gak minat ngomong, gak minat foto-foto, maklum masih capek lari-lari, tapi emang jadi lebih hangat deh.

 

Setelah mendapatkan kembali suara masing-masing... aku pun menghabiskan sisa kentang goreng yang tadi. ½ jam kemudian kami merapat kembali di Circular Quay. Oya, satu hal yang menarik... ketika kami mengantri keluar dari ferry, aku melihat di dalam ferry tersebut, tepatnya di dekat pintu, disediakan tempat parkir sepeda. Dan hari itu, tempat parkir sepeda tersebut penuh. Enak juga ya... penduduk Sydney yang pengen bersepeda di Manly, tinggal gowes sepedanya ke Circular Quay, masukin ke ferry, terus lanjut gowes lagi setelah sampai di Manly. Hmm... kapan ya bisa bikin kota yang benar-benar sepeda friendly seperti Manly gitu...

 

Sebelum berangkat ke Manly, dengkulku agak-agak sakit. Itu akibat turun menyusuri Furber Steps waktu di Blue Mountain dua hari sebelumnya. Waktu naik sepeda, aku udah membayangkan... gimana pegelnya nanti malam... udah dengkul sakit, sekarang ditambah lagi pantat pegel karena sadelnya kegedean. Tapi ternyata... alhamdulilah bayanganku itu tidak terwujud. Yang ada... sakit di dengkul malah hilang... Selebihnya juga biasa-biasa aja ternyata, seperti selayaknya kalo habis naik sepeda di Ragunan.

 

Waaaawww... akhirnya kesampaian juga, cita-cita pengen naik sepeda di Aussie. Ini dia yang namanya ”Work To Bike”: Perjalanan dinas yang bisa menghasilkan petualangan bersepeda… hehehehe...


Blog EntryBersepeda di Bulan RamadhanSep 7, '08 7:57 AM
for everyone
Tadi pagi akhirnya sepedaan di Ragunan lagi. Semula mikir-mikir... kalo bulan puasa mau sepedaannya sore-sore aja, tapi ternyata kalo sore males. Trus dengan pertimbangan jaman SMA dulu kuat disuruh balet pagi-pagi pas bulan puasa, ya sudah... berangkatlah ke Ragunan dengan membawa Espresso dan Da Bike.

Karena takut kecapekan, jadi sepedaannya slow motion, paling pol pake gigi 3... kekekekek...

Ragunan sepi banget, gak seperti hari-hari minggu biasanya. Tapi pas kita istirahat setelah 1 lap, ada serombongan keluarga datang bawa banyak sepeda... Dari mulai MTB, sepeda lipet, sampe City Bike. Terus selama di dalam Ragunan juga ketemu 2 pasang bapak-anak lagi sepedaan.

Ternyata berhasil juga menyelesaikan 2 lap. Pulangnya rada haus, tapi gak haus banget sih... ternyata oke juga olahraga pagi2 pas lagi puasa. Bahkan siangnya masih sempet jalan-jalan ke 2 mall... kekekekek... tauk aja deh, kalo yang namanya aku jalan ke mall itu gak bisa "jarak pendek".

Sekarang pegel dengan suksesnya neehh.... heheheheh...

Blog EntryRagunan 13 Juli 2008Jul 13, '08 4:03 AM
for everyone
Setelah kemaren keliling BSD, hari ini mau menu standar aja: on road Ragunan. Sekalian latian turun ke jalan sendiri lagih.

Jam 1/2 8 berangkat dari rumah, gowes pakek Erik ke Ragunan. Ih heran deh sama motor yang berusaha ngambil antrean lampu merah di sebelah kiriku. Dah jelas, aturan di Indonesia ini kendaraan lebih cepat itu jalan di sebelah kanan. Sepeda, dah gitu yang naik jelas-jelas anak perempuan dengan kaos dan ikat rambut warna pink (gak mungkin ketuker dikira cowok), kan kendaraan lebih lambat. Kalo dia maksa ambil sebelah kiriku, dia pasti akan terhambat olehku. Pokoknya awas aja, kalo ampe nglakson2, malah gue lambatin betulan ntar.

Ampe di Ragunan, sarapan pagi jilid 1 pakek KitKat dan air putih. Abis itu gowes on road anti clockwise. Jalur yang tanjakannya gak terlalu curam tapi penuh dengan tanjakan panjang, namun turunannya curam. Jam 1/2 9 selesai 1 lap. Sarapan pagi jilid 2 dulu, masih KitKat juga sih... emang bawa 2 potong di tas pinggang (oh yeah, ternyata gowes pakek tas pinggang, asal isinya gak kebanyakan, enak juga).

Nelpon bapak, ternyata baru nyampe depan SMP 41. Jadi aku jalan-jalan dulu ke kandang sodaranya Om La. Pas nyampe sana, lohh?! Mana sodaranya Om La? Adanya petugas bonbin lagi bersihin kandang sodara om La.

Untung udah hampir selesai. Gak lama, sodaranya om La dipersilakan masuk kandang lagi (emang sebelumnya dimana?!). Aku moto-moto sebentar pakek HP. Abis itu ibu telepon, katanya sepedanya udah diturunin dari mobil. Waktunya balik ke pintu gerbang Ragunan.

Ketemu bapak dan ibu, terus gowes on road tapi clockwise. Kebalikan ruteku tadi. Jadi tanjakannya curam tapi pendek-pendek, trus sisanya turunan landai dan rata. Di tengah jalan, tukeran sepeda sama bapak, buat nyoba Dahon Espresso (hehe... suka ama warna putihnya, kereeenn). Karena males nyetel seatpost lagi, aku langsung naek aja. Ternyata setelan seatpost yang sama dengan bapak itu lebih enak. Hmm... kalo gitu aku harus naikin lagi seatpostnya si Erik.

Di deket danau, jalan pavement-nya gak rata kan, si Espresso itu rigid kan bow... hahaha... meskipun udah mempraktekkan "berdiri di pedal" yang baru kulatih pas puteran pertama tadi, tetep aja berasa naik bajaj. Wahaha... jadi kayak "naik bajaj sambil berdiri". Wuhuy!!

Abis itu ngaso di deket pintu Barat. Trus aku pulang duluan, karena pulangnya naek sepeda lagi. Kali ini nyoba keluar di Pintu Masuk Utara. Biar gak ketemu sama mobil-mobil yang ngantre mau masuk. Ngambil rute Pejaten Raya lagi. Pokoknya yang motongnya gampang aja deh. Jam 10 lebih 10 sampe rumah, udah pakek berhenti 2 kali. Yang sekali buat masang masker, sekali lagi buat nyopot masker  dan betulin iket rambut. Karena berhenti yang kedua di depan Daeng Tata, jadi sempet ngiler, dan hampir tergoda buat jajan makanan Makassar dulu. Ahahaha... tapi ntar dicariin kok gak nyampe2 rumah... so gak jadi jajan.

Kata bapak, ruteku tadi sekitar 20 km (iya nih, belum beli cyclometer). Ternyata pakek masker gak terlalu ganggu, malah bisa lebih pede ngantre di belakang motor. Kalo gak pakek masker, wah sori-sori aje yee... males banget. Terus ampe rumah, tanganku keliatan item banget, tapi setelah diperhatikan dengan seksama... ternyata bukan kulitnya jadi item, yang keliatan item tadi adalah polusinya Jakarta. Wiiiihhh... jijik banget ya? Mungkin emang mesti pakek kacamata segede mata belalang, abis itu dari pipi ke bawah ditutupin pakek syal besar... atau masker besar... biar sesedikit mungkin kontak kulit muka dengan polusi Jakarta... biar gak gampang jerawatan.

Sore ini berangkat ke Cirebon, mau OJT 10 hari. C u later...

Blog EntryMuter BSD 12 Juli 2008Jul 13, '08 3:25 AM
for everyone
Karena minggu depan mau "masuk hutan" selama 10 hari (dan artinya gak bisa sepedahan), aku minta sama om Ivan buat ditemenin sepedahan. Tapi kemana ya?

Karena ndak ada ide lagi, akhirnya... : "Dah, muter2 di BSD sajah". Itu pun masih harus memutuskan, naik apa? Bawa sepeda yang mana?

Setelah mengalami berbagai dilema dan mempertimbangkan pakek cost benefit analysis, akhirnya kuputuskan untuk membawa si Da Bike naik bis Trans BSD.

Tadinya agak ragu-ragu, kuat gak ya? Ngangkat si Da Bike naik bis? Bakalan diomelin sama kondekturnya gak ya? Tapi seperti kata bapak: "Kalo gak dicoba jadi gak tauk". Nekat aja ah...

Sabtu pagi itu, dengan membawa helm, sarung tangan, kacamata (di dalam ransel), Da Bike (di dalam tasnya yang ternyata ada tulisan "Dahon", maklum dah lama gak dikeluarkan dari tempat persembunyiannya), terus pakek Jersey, bike pants (dilapis celana parasut), dan sepatu olahraga van BPS... aku pun nunggu bis trans BSD di Ratu Plaza.

Jam 8 bisnya datang. Lari-lari deh (yeah... ternyata sambil bawa Dahon 13 kg pun masih bisa lari-lari...). Dipersilakan masuk dari pintu belakang sama mas-mas kondekturnya yang kemudian bantu menempatkan si Da Bike di tempat yang enak.

Jam 9 nyampe di BSD. Aku langsung ngerakit si Da Bike, sambil diliatin mas-mas pegawai Trans BSD. Dia heran aja, sepedanya kok kecil banget? Terus Ivan telepon, katanya dia ketahan di Puspiptek. Wah.. wah... aku nunggu dimana dunk? Tak kehabisan ide, kutelpon kakak sepupuku yang tinggal di Nusa Loka. Agak heran juga pas aku bilang aku mau ke situ naik sepeda. Kekekek... maafkan adek sepupumu ini yang kayak kurang kerjaan ya maaass...

Sembari nunggu om Ivan, ikutan maen-maen bareng si Marci, ponakan yang baru umur 3 1/2 bulan. Ternyata om Ivan emang lama... jam 11, die telpon lagi, katanya udah ke arah BSD. Tunggu punya tunggu... jam 12 kurang baru dia telpon lagi: "Aku udah di sepedakita.com". Yeah... jadi aku pun pamitan terus gowes si Da Bike lagi ke sepedakita.com.

Tadinya males masuk, aku nunggu di sebrang, mau langsung nyari makan aja, secara udah jam 12, aku aja udah laper, kudunya si Ivan lebih laper lagi. Tapi Ivan minta aku masuk dulu aja. Wadduuhh... aku gimana nyebrangnya? Itu ada saluran air mayan gede di tengah jalan. Apa mesti muter?

Om Ivan pun keluar dari toko. Terus nyebrang lewat JEMBATAN BAMBU yang hanya terdiri dari 4 bilah bambu diikat-ikat. "Nyebrang lewat situ aja Git." OOGGGAAAHHH...!!! Ini kan bukan lagi offroad... bukan di tengah sawah... bukan di tengah hutan... nyebrang sendiri lewat situ aja gue ogah, apalagi nyebrang sambil ngangkat sepeda. Bukan apa-apa... kalo di tengah hutan, kan gak banyak orang, kalo ampe nyemplung, gak terlalu malu. Kalo di Jl.Kalimantan BSD... heheheh... gile ajee... Jadi si Da Bike diangkat sama om Ivan lewat bambu2 itu, dan aku nyebrang lewat jembatan permanen berundak-undak yang gak jauh dari situ.

Di toko, dikenalin sama teman-temannya om Ivan yang tadi barengan nyepedah dari JPG ke... Gunung Sindur (yuuukk!). Tokonya enak, nyaman, emang asik buat ngumpul2 dan ngobrol2 para goweser. Mereka heran liat Da Bike. Bukan heran karena "lipet"-nya atau "kecil"-nya, itu mah mereka sudah biasa, tapi heran karena "tua"-nya... Setelah minta saran tempat makan siang, aku dan Ivan pun mulai meluncur ke Warung Soto Betawi H.Mamat yang letaknya... di deket ITC BSD, di Jalan Raya Serpong kalo gak salah namanya.

Ahahaha... emang terbilang rombongan yang aneh sih. Secara om Ivan abis menempuh hampir 50 km JPG-Gn.Sindur-BSD, trus aku masih seger buger, tapi sepedanya pakek ban 16 inch dan gear tertinggi yang bisa dipakek hanyalah 3 (out of 5), plus jam 12 siang aja gitu loh... Yang ada om Ivan di depan mesti agak-agak ngerem-ngerem, sedangkan aku di belakang harus gowes cepet biar gak terlalu lamban.

Kalo di turunan aku pasti mulai ketinggalan. Karena mengandalkan gravitasi aja to, mau digowes kayak apa juga, tetep aja kecepatannya segitu, disuruh ngimbangin sepeda dengan ban "normal" alias 26 inch.

Setelah sempet nyaris susul-susulan sama angkot yang baru selese ngetem di deket ITC BSD, akhirnya nyampe juga di H.Mamat. Warung ini katanya pernah masuk Wisata Kuliner. Enak sih... seperti selayaknya Soto Betawi.

Abis itu jalan lagi... kali ini tujuannya ke... Sevilla. Lewat parkiran ruko-ruko, mayan gak perlu rajin-rajin tengok-tengok ke belakang. Bisa sambil ngobrol, liat-liat deretan toko. Sampe di Sevilla... ternyata lagi dibikin jalan kompleks... lagi ngeratain batu-batu kerikil dan lagi bangun 2 unit rumah contoh. Kita pun masuk ke dalam calon cluster itu.  Tapi sebelumnya, tak lupa ganti kacamata dulu. Waktu masuk cluster sempet berpapasan dengan beberapa setrika jalan.

Pertama liat rumah contoh yang lagi dibangun dulu. Setelah itu ngeliat ke  Ivan's soon-to-be-built home. Masih tanah gitu doang sih... tapi sudah dikasih patok-patok batas. Jadi bisa berandai-andai ntar halaman belakangnya dimana... tapi pas aku tanya, WC dimana? (hal penting yang sering dianaktirikan), sebuah setrika jalan mau melintas di depan rumah, tepatnya di jalan tempat kami "markir" sepeda. WAAATTTAAAA.... ayo kaabuuurrrr... ambil sepeda, terus menjauh dari setrika tadi.

Perjalanan tadinya mau dilanjutkan ke Ivan's Base Camp lewat "offroad" ringan, alias jalan jelek banget dari Kencana Loka yang nembus ke Jalan Ciater Raya. Cuman karena haus, jadi es buah adalah pilihan yang tepat untuk siang hari itu. Mampir dulu deh di penjual es buah depan Alfamart Kencana Loka. Seegggeeerrr.... sembari agak kotor-kotor dikit kena tanganku yang mulai cemong sana-sini.

Makan es buahnya mesti ngebut, karena temen om Ivan yang namanya Ivan juga ternyata udah on the way ke Ivan's Base Camp, ada sedikit bisnis gitu deh. Abis itu gowes lagi... lewat jalan rencana semula: jalan jelek keluar daerah BSD yang kita sebut "offroad" tadi. Ayo Da Bike... kita lewat jalan jelek. Kali ini aku paksain agak ngebut, kesian sama temen-nya om Ivan yang namanya Ivan itu kalo kelamaan nunggu. Eleeuuhh... pegel juga euy ternyata... dengkul mulai kerasa amoh, ngebut pakek 16 inch. Sambil menghindar lubang sana-sini pula... Paling bete kalo udah gak bisa menghindar sama sekali (mau ngepot kemana pun tetep aja ketemu permukaan yang jelek), biar kata udah naik dari sadel, tetep aja berasa naik bajaj. Secara... si Da Bike itu kan rigid, no suspension at all, not even front suspension. Ahahaha... lengkap deh pokoke... udah 16 inch, cuman bisa gigi 3 out of 5, rigid lagi.

Nyampe di Ivan's Base Camp, doing some business sama Ivan satu lagi dulu, abis itu cuci-cuci muka. Alamaaakkk... ternyata celana parasut lapisan luarku udah cemongan minyak sepeda!!! Ahaha... tapi ini kan cuman pelapis biar gak dikomentarin sama orang-orang yang lagi nongkrong di warung. Yang intinya justru bike pants di dalamnya. Meskipun celana luar kotor abis, tapi masih bisa berkeliaran dengan bike pantsnya.

Wah, aku harus sedikit ngereview pakaian sepedaku yang kebanyakan penggunaan perdana nih. Ternyata pakek bike pants itu endang murindang, alias ENAK. Empuk, jadi tulang ekor tak berasa tajem-tajem. Pakek jersey juga enaakk... sejuk, meskipun orangnya udah keringetan sana-sini, baju cepet kering, jadi gak ada cerita "bas-ket". Harus nyari lagi di BBB-Bike neh... (kok jadi promosi?). Tapi jersey itu tuh, emang love at first sight deh... yang milihin mbak-mbak yang di BBB-Bike. Aku cuman nanya: "Mana yang oke buat cewek?" Diambilin warna merah-abu (cakkeeeppp... matching sama si Erik), terus ukuran S. Sedikit skeptis tadinya, tapi pas dicoba, wah enak banget pakeknya... tapi baru kemaren itu di-"test drive" buat sepedahan betulan.

Kembali ke BSD... jam 4, aku mulai pakek sepatu lagi. Nyoba Giant-nya om Ivan dulu (yang ternyata terlalu "nungging" karena stem-nya panjang banget), kayak mau tersungkur ke depan gitu loh. Seat post-nya panjang banget ternyata. Harus sampe mentok ke bawah baru pas buat aku. Walah...?? Padahal kalo pakek polygon punya, seat postnya mesti dinaikin mayan tinggi. Ini mah biar kata frame-nya ukuran S, tapi minimal orangnya setinggi aku kalo mau gowes, karena seat postnya panjang. Tapiii... punya seatpost panjang tapi frame agak pendek itu kan jadi bisa terlihat "seatpost tinggi dan kaki panjang". Uwwwaaaauuwww...

Abis itu gowes lagi ke halte trans BSD. Karena males bersaing muter sama mobil-mobil di depan Pasar Modern, aku nuntun si Da Bike di atas trotoar dari pertigaan Kalimantan sampe pertigaan Pasar Modern. Abis itu gowes males-malesan. Sampe di halte, ngelipet si Da Bike lagi. Cuman yang lipetan frame aja yang gak bisa dikerjain sendiri (berat euy). Dibantu sama beberapa mas-mas pegawai trans BSD yang ikutan heran sama Da Bike.

Berangkat dari BSD jam 5. Celana parasut bertambah banyak aja noda hitamnya. Jijay bajay lah... Nyampe Ratu Plaza jam 6, baru naik mobil jam 6.20 karena macet banget di jalan Sudirman. Nyampe rumah jam 7. Wuuuaaaa... Capek? Ya iyalah, masa' ya iya dong? Tapi puas... hehe... makasi ya om Ivan, meskipun teler-teler abis ke gunung Sindur plus mesti sering melambatkan si Giant, tapi tetep mau nemenin aku dan si Da Bike berkeliling BSD.

Mungkin orang akan bilang aneh ya, keliling BSD tengah hari bolong naik sepeda. Tapi, kenapa harus jadi normal sih, as long as gak merugikan atau mengganggu orang kan? Atau pertanyaan yang lebih mendasar lagi: apa siy definisinya "normal"?

Tapi next time... mungkin mending bawa Erik aja...

Blog EntryPosting PertamaJul 11, '08 10:34 AM
for everyone
Ini posting pertama di multiply.

Mau kuisi tentang pengalaman bersepedaku...